oleh

Prioritas Penindakan Ops Zebra Semeru 2020, Ini Sasarannya

Surabaya – Selama 14 hari kedepan, pelaksanaan Operasi Zebra Semeru 2020 akan diadakan mulai 26 Oktober sampai 8 November 2020. Oleh sebab itu, masyarakat di himbau dalam pelaksanaan Ops Zebra Semeru tersebut agar mematuhi peraturan lalulintas demi terwujudnya tingkat kesadaran bersama.

Kasat Lantas Polrestabes Surabaya AKBP Teddy Chandra, S.I.K., M.Si., pihaknya menyampaikan bahwa, dengan dilaksanakan Operasi Zebra Semeru tahun ini paling tidak dapat meminimalisir penurunan tingkat rawan kecelakaan. “Jadi, kami berikan penindakan bagi pengendara yang melanggar dengan sanksi tilang, tapi untuk sanksi teguran dapat melihat segi jenis pelanggaran terlebih dahulu,” ujarnya, Sabtu (24/10/2020).

AKBP Teddy mengatakan, dengan Ops Zebra Semeru 2020 ada perbedaan di tahun sebelumnya. Karena, mengingat pelaksanaan tersebut masih situasi Pandemi Covid-19 sehingga jenis polanya sedikit berubah tetap kedepankan disiplin protokol kesehatan (Prokes).

Menurutnya, segi preemtif secara mengedukasi dengan sosialisasi ataupun himbauan, dan penyuluhan serta pembagian masker, hingga pemasangan stiker untuk mengajak masyarakat tetap mematuhi penerapan Prokes. “Kalau penegakan hukum bidang lalulintas kita tetap laksanakan,” terang AKBP Teddy saat ditemui di ruang kerjanya.

Ditegaskan, bagi pengendara motor yang menggunakan knalpot brong hal tersebut merupakan target sasaran yang sudah di insentifkan. Secara tentunya, kami tegakkan guna menjaga ketertiban di Kota Surabaya. “Masing-masing sasaran prioritas penindakan juga tidak lepas penggunaan tanda nomor kendaraan bermotor (TNKB) telah di modifikasi, dan tidak dilakukan pemasangan TNKB secara lengkap, maupun semua jenis pelanggar lalulintas secara kasatmata.

Beberapa prioritas penindakan secara kasatmata, sambungnya, berpotensi terhadap terjadi penyebab kecelakaan lalulintas. Maka itu, kendaraan R4 atau jenis truk bermuatan lebih batasan beban atau overloading, maupun overdimensi. “Akan kami jadikan atensi bagi pelanggar kendaraan jenis truk bermuatan lebih. Karena, hal itu merupakan salah satu faktor menjadi penyebab kecelakaan,” ungkap AKBP Teddy.

Kasatgas Preventif mengatakan, prioritas pelanggaran utama pengendara R2 (roda dua) dan R4 (roda empat) atau lebih antara lain adalah, penindakan pengendara R2 tidak menggunakan helm standart SNI, melawan arus, menerobos alat pemberi isyarat lampu atau palang pintu kereta api, melewati batas garis marka, dan pengendara yang masih di bawah umur, serta aksi balap liar,” imbuh AKBP Teddy.

Kemudian, lanjut AKBP Teddy, pelanggaran pengendara R4 tidak menggunakan sabuk pengaman (Safety Belt), penggunaan bahu jalan, melebihi batas kecepatan, hingga pengemudi dengan pengaruh alkohol atau narkoba,” pungkasnya. (yti/red)

News Feed