oleh

Fasilitasi Gas Rawa, Dinas ESDM Jatim Alokasikan Anggaran APBD Ratusan Juta

jurnalissiberindonesia.com, Surabaya – Upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur memfasilitasi kebutuhan masyarakat terus dilakukan melalui, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jatim dengan memberikan program Gas Rawa kepada warga. Diketahui, terkait pencanangan program Gas Rawa merupakan Gas terdapat pada sumur peninggalan jaman kolonial Belanda yang dalam jumlah cukup banyak, Kamis (23/1/2020).

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jatim, H. Setiajit, S.H., M.M., saat ditemui wartawan di ruang kerjanya mengatakan, di Jatim masih sangat banyak terdapat jumlah terdapat gas dangkal atau gas rawa. Hal itu, kalau tidak dimanfaatkan oleh gas dapat terjadinya timbul sering kali mengganggu masyarakat. Misalkan, bisa terjadi menimbulkan semburan gas. “Kami sebelumnya mempunyai gagasan dan tentunya mendapat dukungan dari Ibu Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa untuk memanfaatkan gas rawa ini,” ungkapnya.

Kemudian, sambung Setiajit dari sejumlah ratusan maupun ribuan titik lokasi telah lakukan penyurveian identifikasi untuk memungkinkan langkah awal pada gas rawa tersebut. “Kami sudah melakukan langkah uji coba gas rawa itu di Desa Nguken, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur dengan difasilitasi alokasi anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim sekitar Rp. 250 juta untuk pembangunan separator yaitu, alat berfungsi untuk memisahkan air, minyak dan gas yang disalurkan ke rumah warga,” paparnya.

Ia menyampaikan, bagi masyarakat yang sudah mendapatkan fasilitas gas rawa itu agar digunakan dengan sebaik-baiknya, karena tentu nantinya bisa digunakan secara turun temurun, dan harap di rawat sekaligus di jaga dengan baik. “Kami berpesan, agar dari Kepala Desa (Kades) setempat untuk di kelola penanganan oleh Bumdes (Badan Usaha Milik Desa), sehingga nanti bisa manfaat bersama,” pesan H. Setiajit, S.H., M.M., kepada jurnalissiberindonesia.com.

Setiajit menuturkan pihaknya telah menyalurkan sebanyak 39 gas rawa di rumah warga, tetapi akan diserahkan ke Bumdes untuk dikembangkan ke tiap sekitar 100 kartu keluarga (KK) lebih. Selanjutnya, ini merupakan suatu progres sangat penting sekali untuk melakukan langkah program gas rawa selain di daerah Kabupaten Bojonegoro, yakni di wilayah Kutisari Surabaya, dan Kabupaten Pamekasan, Madura.

Fungsi gas rawa tersebut, sambungnya sebagai bentuk mensejahterakan warga dapat digunakan untuk memasak yang pengolahan melalui disparator, kemudian dialirkan ke rumah warga dengan jaringan gas pada pipa kecil. “Berfungsi mencukupi kebutuhan warga sehari-hari sehingga keuntungan manfaatnya banyak dapat membantu perekonomian warga dengan menghemat biaya pada pembelian gas LPG ataupun juga menggunakan kayu bakar,” terangnya.

Dijelaskan, berawal munculnya gagasan gas rawa itu sebelumnya dilakukan studi, dan walaupun tanpa studi pun secara diketahui, pada sumur peninggalan jaman kolonial Belanda masih banyak mengeluarkan gas rawa sekitar 1 milimeter (mm) dan ada juga 3 milimeter (mm). Bahkan, kekuatan gas rawa yang dihasilkan bisa mencapai 10 bar. Padahal, untuk gas rawa tersalur ke rumah tangga dengan jumlah 100 KK hanya cuku 1/2 bar yang dapat digunakan memasak. “Manfaatnya sangat baik sekali, dan kami menolong rakyat Jatim,” imbuhnya.

Setiajit menambahkan, oleh karena itu merupakan bagian pada project untuk sedang mengkaji kembali apakah mungkin nanti APBD Kabupaten bisa digunakan pada gas rawa itu, karena minyak dan gas merupakan kewenangan Pemerintah Pusat. Tetapi, karena Pemprov Jatim kwartirnya dari Pemerintah Pusat, maka APBD bisa digunakan untuk gas rawa. “Kami sementara akan membangun kembali sekaligus pipa kalau masih terdapat anggaran rencananya di wilayah Kabupaten Tuban, Gresik, Lamongan dan wilayah Madura lainnya,” pungkasnya. (mnf/wj)

News Feed