oleh

Dugaan Pelepasan Pelaku, Kapolres Bangkalan: Konteksnya Diamankan dan Tidak Cukup Alat Bukti

jurnalissiberindonesia.com, Bangkalan – Aksi komplotan pencuri yang rata-rata membuat resah masyarakat Kabupaten Bangkalan, Madura. Sehingga, kawanan pencuri tak segan-segan akan berbuat nekat saat beraksi dan juga mencederai para korban. Seperti halnya, H. Amin (50), warga Dusun Kebelen Timur, Desa Benangkah, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan menjadi korban pencurian, dan melaporkan ke pihak berwajib. “Kami mengalami korban pencurian, dan langsung melapor ke Polres Bangkalan dengan di buatkan berkas laporan polisi tertuang pada nomor LP/235/XII/2019/JATIM/ RES BKL. Tapi, setelah proses pelaporan diterima oleh pihak Kepolisian selama 1 bulan lalu, belum diketahui pasti ada perkembangan,” katanya.

Ia menjelaskan, saat melakukan pelaporan ke petugas SPKT (sentra pelayanan kepolisian terpadu) Polres Bangkalan, juga menunjukkan bahwa menduga mengetahui ada 5 pelaku diantaranya, terdapat beberapa orang pelaku yang dikenalinya. Tetapi, apa yang telah disampaikan korban itu melainkan bukan tanpa dasar, dengan memiliki bukti surat perjanjian yang dibuatkan oleh pihak kepala desa (Kades) setempat dengan pelaku yang dikuatkan bersama sejumlah saksi. “Jadi, 2 orang ini sudah mengaku perbuatan kaitannya dengan pencurian yang kepada kami. Bahkan, pelaku berjanji akan mengganti semua kerugian, serta kami juga sudah menunjukkan ke petugas kepolisian bagian penyidik yang mana saksi untuk dapat dihadirkan, tentunya kami atas saran petugas itu pastinya kami datangkan,” ujar H. Amin selaku korban.

Dikatakan, kemudian petugas kepolisian bagian penyidik setelah memerintahkan para saksi untuk didatangkan, selanjutnya dilakukan pemeriksaan saksi ini. “Petugas penyidik setelah mendengarkan keterangan saksi tersebut, keesokan harinya menjalankan tugas untuk menangkap pelaku untuk digelandang ke Mapolres Bangkalan pada, Senin (23/12/2019), lalu,” tuturnya.

Selanjutnya, korban mengkira merasa senang lantaran laporannya benar-benar ditanggapi petugas dengan menyikapi kawanan pencuri di wilayah hukum Kabupaten Bangkalan. Kemudian, esok harinya Selasa (24/1/2019), lalu diketahui pelaku tertangkap dan sudah ditetapkan tersangka. Namun, dengan itu dilakukan pelepasan. “Iya sudah di lepas tersangka, dan kami merasa kecewa atas kinerja oknum Kepolisian Polres Bangkalan,” ucap H. Amin.

Ia menambahkan setelah dilepas, tersangka sempat menyombongkan diri (sesumbar) kepada warga dusun dengan berdalih, bahwa siapa saja mau menangkap silahkan untuk melaporkan. “Jadi, sempat sumbar ya setelah di lepas, dan bagi siapa saja yang mau tangkap silahkan, bahkan laporkan ke Polda Jatim sekalian, hingga tersangka ini memiliki kenalan di Polda juga,” tutur korban H. Amin sambil menirukan logat perkataan tersangka ini, Selasa (21/1).

Demikian, Ia memaparkan di rasanya kurang puas telah mendatangi ke Mapolres Bangkalan untuk menanyakan perihal terkait perkembangan kasus dilaporkan kepada petugas penyidik berinisial Bripda AFK. Namun, melainkan bagi korban dibuat rasa heran saat menanyakan hasil perkembangan pada kasus menimpanya itu di dalam ruangan reskrim salah satu anggota dari rekan penyidik Bripda AFK dengan cetusnya untuk mencari pelaku sendiri. “Iya bilang begitu, petugas menyuruh kami untuk mencari sendiri pelakunya,” beber Amin.

Terpisah, Kapolres Bangkalan AKBP Rama Samtama Putra menyatakan bahwa, kasus ini dilaporkan setelah 1 bulan pernyataan tidak dilaksanakan, kemudian baru diamankan oleh anggota Resmob Polres Bangkalan. “Saat diamankan mereka orang yang ada di dalam pernyataan mengelak semua, kecuali 1 orang yang mengaku atas nama Jauhari,” terang AKBP Rama saat dikonfirmasi melalui via telepon, Selasa (21/1).

Kemudian, sambung Kapolres mereka orang lain menyebut si Jauhari ini ada gangguan kejiwaan. Dengan begitu kita periksakan ke rumah sakit jiwa ke dokter psikiater, dan hasil pemeriksaan tersebut bahwa, Jahuri terdapat gangguan kejiwaan hingga juga ada keterangan suratnya. “Maka, itu tidak kami lakukan gelar ekspose. Kenapa, hal ini kami tidak mengekspose lantaran, ada gangguan kejiwaan dan dampak akibatnya nanti akan menguntungkan bagi pelaku yang lain, oleh sebab itu kita berjibaku untuk tetap membuktikan itu,” tutur AKBP Rama.

AKBP Rama Samtama Putra menyatakan terkait sebelumnya pada pemberitaan sudah beredar pihaknya tidak menanggapi. Sehingga, prinsipnya masih tidak memiliki alat bukti yang cukup untuk dapat menentukan mereka itu ditetapkan sebagai tersangka, yang pada akhirnya hanya berdasarkan surat pernyataan itu saja,” sebut AKBP Rama.

Bahkan, lebih lanjut katanya mereka mengaku motor di jual ke Herman, kemudian dilakukan pengecekan si Herman mengaku bahwa, tidak ada dan jangan nerima motor, kenal saja tidak.
“Nah dengan persoalan, kalau terlalu menanggapi, membuka fakta sebenarnya nanti akan menguntungkan bagi pelaku itu. “Kita yakin ini pelaku, tapi alat buktinya kita masih belum kuat itu saja,” tandasnya.

Demikian, Ia memaparkan kemarin juga dihadirkan 1 orang saksi yakni, istri dari korban H. Amin dan disaat pemeriksaan yang menunjuk kejadian mengaku melihatnya dugaan pelaku Jauhari mengambil motor. “Sempat istrinya membangunkan suami H. Amin, tetapi tidak bangun, dan setelah hilang baru korban bangun. Tapi, dari rangkaian peristiwa itu demikian akan naikan ke proses sidik sore kemarin. “Karena kelemahan kita kalau masih proses penyelidikan mereka orang yang kita panggil dalam surat pernyataan belum diperiksa semuanya dan kita panggil tidak mau datang, karena belum penyidikan atau belum pro justisia,” imbuh AKBP Rama.

Misalkan, tambahnya dengan dilakukan pemanggilan kembali tidak datang, sehingga kita perintahkan anggota untuk membuat surat perintah penangkapan.

Secara, atas tuduhan pelepasan tersebut pihaknya menyebut konteksnya diamankan, belum ditangkap, masih diamankan, karena tidak cukup alat bukti. Maka, mana berani kita mau menangkap dengan alat buktinya tidak ada, kan repot hanya berdasarkan surat keterangan pernyataan itu,” dalih AKBP Rama Samtama Putra. (mnf/wj)

News Feed