oleh

Pengedar Sabu Digagalkan dan 1 Pelaku DPO, Ini Modusnya

jurnalissiberindonesia.com – Menggeluti bisnis haram narkoba jenis sabu-sabu selama 6 bulan membuat Samsul Arifin menanggung akibatnya mendekam di balik jeruji besi penjara. Pria umur 44 tahun digagalkan Unit Reskrim Polsek Gayungan di dalam rumah Jalan Karangrejo VI Surabaya atas kepemilikan serta menyimpan narkotika sabu.

Kapolsek Gayungan Surabaya Kompol Sumaryadi, melalui Kanit Reskrim Ipda Hedjen Oktianto saat dikonfirmasi mengatakan, pelaku (Samsul Arifin-red) akan dikenakan pasal 112 ayat (1) jounto pasal 114 ayat (1) tentang narkotika disangkakan sebagai pengguna dan pengedar barang terlarang sabu. “Kami temukan barang bukti sebanyak 9 poket sabu yang disimpan dalam kotak termometer, beserta 1 buah pipet kaca yang dalam powerbank,” ungkap Ipda Hedjen Oktianto saat dihubungi melalui via selulernya, Sabtu (7/12).

Dikatakan sebelumnya menindaklanjuti laporan bahwa adanya seseorang yang kerap kali menggunakan dan mengedarkan serbuk kristal haram jenis sabu, Rabu (4/12) sekitar pukul 06.00 WIB. Yang kemudian, laporan informasi itu dilakukan gerak cepat upaya target buruannya tidak kabur. “Selama penggeledahan sabu tersebut disembunyikan pelaku saat kami interogasi tidak mengakuinya.

Kemudian, sambung Hedjen pihaknya mencurigai pada lubang dinding ventilasi udara di dalam rumah pelaku. Begitu dilakukan penggeledahan pihaknya menduga bahwa barang itu paket sabu. “Selama penggeledahan kita juga disaksikan pihak keamanan dan perangkat RT setempat, dan terbukti pada kemasan plastik terbungkus permen jahe berisikan sabu sebanyak 9 poket seberat 2,1 gram untuk kami sita,” ujarnya.

Dalam pemeriksaan, kata Hedjen tersangka mengaku barang haram sabu tersebut miliknya yang telah disuplay oleh seorang bandar berinisial SHR dengan sistem ranjau berada di Jalan Tambaksari Surabaya atau sekitar Pasar Tambak Rejo. “Tersangka memesan 2 gram, kemudian memesan kembali 3 gram, kemudian tiap minggu bertambah 5 gram sabu. “Kita tetapkan pelaku menyuplai sabu sebagai DPO (buron),” tuturnya.

Hedjen menyebut bahwa, modus dilakukan tersangka agar tidak ketahuan bisnis haram dengan terungkapnya dengan menyelipkan sabu pada lubang dinding ventilasi udara agar dapat mudahkan pelanggan jika tidak berada dirumah. 

Selain itu, tambahnya tersangka sudah menggeluti bisnis sabu sekitar 6 bulan, kemudian rata-rata pelanggan dari kalangan sopir taksi online hingga sopir angkot. “Tersangka (Samsul Arifin-red) mematok seharga Rp.200 ribu per/poket sabu dan berdasarkan hasil tes urine Samsul merupakan pemakai aktif sabu sejak selama 1 tahun terakhir,” imbuh Hedjen. (yti/wj/mnf)

News Feed