oleh

Ungkap Satwa Langka, Polres Gresik Karantina di BBKSDAE Jawa Timur

jurnalissiberindonesia.com, Sidoarjo – Barang bukti (BB) hasil sitaan perdagangan Ilegal satwa liar Burung Merak Hijau, Burung Takur Api, dan Burung Takur Uli asal Sumatera dari Unit Tindak Pidana Ekonomi (Tipidek) Satreskrim Polres Gresik telah berada pada kandang Karantina Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam BBKSDAE Provinsi Jawa Timur. Hasil sitaan BB tersebut merupakan pengungkapan tersangka Dani Agus Saputra (31), asal Desa Golokan, Sidayu, Kabupaten Gresik.

“Demikian hal ini merupakan sebagai tugas fungsi BBKSDAE Provinsi Jatim sebagai management otoriti penanganan tumbuhan dan satwa liar. “Kemarin itu dari Polres Gresik adanya tangkapan operasi perdagangan ilegal terdapat beberapa jenis hewan satwa langka berupa burung yang telah disita, begitu juga memang benar satwa ini berada pada kandang transit karantina kami,” kata Kepala BBKSDA Jatim Nandang Prihadi, melalui Humas BBKSDAE Jatim Gatut Panggah Prasetyo saat dikonfirmasi di kantor BBKSDAE Jatim, di Jalan Bandara Juanda, Airport, Dukuh, Sedati Agung, Kec. Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Rabu (9/10/2019).

Disampaikan Gatut, langkah yang dilakukan seperti pada kasus sebelumnya adanya putusan dan ketetapan hukum yang tetap satwa itu dalam pemantauan serta perawatan. “Kami lakukan segi kesehatan, dan perilaku akan di evaluasi selama proses hukum berlangsung yang bertujuan utama sesuai dengan amanah Undang-Undang (UU) tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem bahwa, seluruh satwa sitaan, satwa rampasan, maupun satwa penyerahan adalah, opsi pertama dilepas liarkan dan apalagi satwa disita hasil perdagangan ilegal,” tuturnya.

Gatut Panggah mengatakan, hal itu bisa diperkirakan sebagian besar satwa tersebut merupakan tangkapan dari habitat alam liar. “Jadi, peranan pelaku yang tidak bertanggung jawab ya secara menangkap menggunakan jaring, lalu dikirim ke suatu daerah, dari situ kita upaya satwa dapat bisa kembali ke habitat asal sebagai fungsi spesies satwa berperan penting pada ekosistem,” jelasnya.

Dari kesekian banyak satwa langka yang asalnya dari mana saja sambungnya, misalkan satwa tersebut berasal dari Kalimantan, pihaknya upaya nanti bisa di kembalikan ke sana (habitat alam liar) dengan berdasarkan penilaian perilaku yang sudah di lakukan. “Satwa langka ini masih dalam proses karantina dengan pengecekan kondisi, begitu saat pelaku ini melakukan pengiriman, dimungkinkan mengalami stress, atau mungkin ruang gerak yang sempit harus dipulihkan terlebih dahulu,” sebut Gatut kepada jurnalissiberindonesia.com.

Kemudian, lanjutnya terkait tindak lanjut satwa mau diapakan, tentunya menunggu proses hukum kesempatan kedepan. “Dimungkinkan bisa juga mempertimbangkan keselamatan satwa sebelum proses hukum selesai, apabila sudah memenuhi kajian untuk dilepas liarkan dengan persetujuan dari pengadilan kepada jaksa sebagian barang bukti atau dokumentasi memang dilepas liarkan dan secara hukum sah,” ungkap Gatut kepada media ini.

Gatut menyebutkan bahwa, hasil jumlah total yang telah dikarantina ada sekitar 400 ekor berbagai jenis satwa, dengan ditambah dari hasil pengungkapan Polres Gresik. “Secara keseluruhan itu dengan pembuktian melalui berita acara perkara (BAP) semuanya. Jadi, satwa yang dikarantina pada proses penyerahan, atau secara resmi semua terdokumentasi masing-masing jumlah itu sendiri,” imbuhnya.

Gatut menambahkan, langkah upaya BKSDAE Jawa Timur tetap melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk memberikan kesadaran bahwa, bukan hanya memberikan dengan kata istilah treatment untuk menakut-nakuti kepada masyarakat dengan hukum, tetapi memberikan pemahaman fungsi satwa sebagai penyeimbang ekosistem peranan penting. “Keuntungan yang diperoleh perdagangan ilegal tidak sebanding dengan kerugian yang diderita oleh habitat alam liar,” pungkasnya.

Reporter: yti/07
Design/Editor: Wijianto, SM

News Feed