oleh

Pemicu Penyakit Kencing Tikus Dapat Disembuhkan, Ini Pencegahan dari Dinkes Jatim

jurnalissiberindonesia.com, Surabaya – Masyarakat Jawa Timur harap mewaspadai penyakit kencing tikus atau disebut penyakit Leptospirosis. Penyakit ini dapat beresiko tinggi yang mengakibatkan meninggal dunia. Cenderung dari pada penyakit kencing tikus adalah, menyerang organ tubuh manusia mengalami gagal ginjal serta masyarakat jangan merasa cemas danĀ  khawatir apabila bagi mengalami sakit Leptospirosis, hal ini dapat disembuhkan secara rutin mengkonsumsi obat tersedia di Dinas Kesehatan (Dinkes) se-Kabupaten/Kota atau Puskesmas setempat.

Berdasarkan catatan Dinkes Provinsi Jawa Timur terdapat jumlah ada 23 kasus, dan 11 kasus diantaranya mengalami meninggal dunia. Penyebabnya adalah paling sering terjadi keterlambatan pengobatan.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Jawa Timur, Dr. dr. Kohar Hari Santoso, Sp.An., KIC., KAP., melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Provinsi Jawa Timur, dr. Setya Budiono, M.Kes., menuturkan bahwa, penyakit kencing tikus dalam dunia kedokteran disebut penyakit Leptospirosis, penyebabnya adalah bakteri Leptospira yang menyerang pada manusia berasal dari bakteri ada di lingkungan dapat ditularkan pada hewan. Maka penyakit Leptospirosis dikelompokkan penyakit menular melalui binatang tidak hanya tikus, termasuk binatang ternak bisa juga juga sumber penularan penyakit. “Jadi tidak hanya tikus saja binatang lain seperti, anjing, sapi, kambing, memang banyak bakteri ditemukan pada tikus, karena kehidupan mereka di tempat yang kumuh atau kotor,” terang Setya Budiono, didampingi Staf PPID Dinkes Jawa Timur Riska Uflia Sari saat ditemui di Kantor Dinkes Provinsi Jawa Timur, kemarin (9/9/2019).

Dikatakan, tanda dari penyakit kencing tikus gejalanya ringan dan tidak dapat dilihat faktor tandanya. Sedangkan orang yang mengalami penyakit tersebut kalau di lihat sekilas di perkirakan orang ini tidak sakit, tapi bisa menyebabkan sakit berat pada gangguan ginjal sampai harus cuci darah, karena mengalami gagal ginjal akut, serta multi organ kegagalan tubuh, misalnya hati, ginjal mengalami fungsi menyebabkan kematian,” ujarnya.

Seperti kasus di Kabupaten Gresik tersebut, kata Setya Budiono penyakit kencing tikus penyebab paling sering keterlambatan pengobatan. “Masyarakat masih belum memahami penyakit kencing tikus, maka dianggap penyakit biasa dan fasilitas kesehatan dalam kondisi berat, selanjutnya pertolongannya kurang optimal,” tutur Setya.

Disampaikan, pencegahan bisa dilakukan masyarakat dengan cara kendalikan jangan sampai ada tikus yang berkeliaran di rumah. Faktor ini kuncinya ada 2 (dua) yakni, jangan membuat sarang dan menyediakan makanan buat mereka (tikus). Yang dimaksud jangan membuat sarang pada rumah adanya tumpukan barang bekas atau bisa juga buat lingkungan rumah sebersih mungkin.

Selanjutnya, jangan berikan makanan kepada tikus, artinya sisa makanan yang ada dalam rumah jangan dibiarkan, maka itu yang membuat tikus akan datang,” pesannya.

Setya Budiono menambahkan dulu penyakit Leptospirosis dikaitkan dengan banjir banyak tikus yang tinggal di selokan bermunculan. Bahkan, masyarakat terkena dampak banjir air genangan terdapat kencing tikus. Kalau ada luka microlesi bisa menular, dan dapat menimbulkan penyakit pada orang tersebut. Kenapa disebut kencing tikus, karena bakteri ini suka hidup pada ginjal tikus, sehingga air kencing tikus mengandung bakteri Leptospira,” ungkapnya.

Disampaikannya, ciri penyakit kencing tikus hampir tidak diketahui tanda gejalanya, tapi mulai agak berat timbul nyeri di betis, timbul demam badan sakit semua flu like syndrome (gejala menyerupai influenza).

Penyakit kencing tikus muncul terutama pada betis kalau ditekan akan terasa nyeri, dan ada tanda warna kuning pada bagian organ tubuh di bagian mata. Kemudian, gagal ginjal akut yang sehingga ginjal tidak bisa keluar air seni (kencing). “Ini hampir serupa dengan penyakit hepatitis dan kalau ada tanda gejala sakit apapun jangan meremehkan,” sebut Setya Budiono kepada jurnalissiberindonesia.com.

Diungkapkan bahwa, pada Puskesmas Kabupaten Gresik pihaknya sudah distribusikan Rapid Diagnostic Test (RDT) untuk penyakit Leptospirosis atau kencing tikus dengan tujuan kalau ada kasus yang mengarah kesana segera bisa dideteksi terobati. Karena obat tahap dini Doxyciclin atau obat leptospirosis (kencing tikus) segera diberikan, maka tidak sampai timbul kefatalan dan bila pada sekitar ada yang terkena penyakit tersebut bisa meminum obat sebagai profilaksis (pencegahan). “Jadi penyembuhan obat ini tersedia di Dinkes seluruh Jawa Timur, atau masing-masing Puskesmas setempat,” kata Setya Budiono.

Adapun sosialisasi ke masyarakat pihaknya sudah melaksanakan di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan salah satu upaya menguatkan pemahaman penyakit kencing tikus tersebut. “Seminggu yang lalu kita mengadakan workshop lapangan, karena di Jawa Timur di jadikan Sentinel surveilans (pemantaun penyakit di fasilitas kesehatan tertentu) pengamatan secara terus menerus terhadap penyakit kencing tikus diwilayah itu. Harapan kami agar supaya meneruskan ke Puskesmas dan disampaikan ke masyarakat,” jelasnya.

Dituturkan Setya, penyakit kencing tikus tidak hanya vakum di Kabupaten Gresik, namun penyakit ini pihaknya menduga setiap Kabupaten/Kota ada, tapi kenapa tidak terlaporkan. Karena, untuk mendiagnosis penyakit tersebut ada alat khusus RDT itupun sampai tingkat probable (terduga kuat), kalau untuk standar diagnosisnya harus di kirim pemeriksaan ke laboratorium  di BPTKLPP (Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit) di Surabaya. Masalahnya, penyakit kencing tikus ini kalau ringan sama halnya serupa dengan penyakit demam berdarah. Ia menyebut pendeteksian segera sedini mungkin agar dapat terobati supaya angka kematian tidak tinggi. Pencapaian jumlahnya sekitar 25 – 26 persen, dari 100 kasus yang dilaporkan, ada 25 orang di usia produktif yang meninggal dunia. “Kalau di Kabupaten Gresik cukup tinggi sekitar 47 persen hampir 50 persen dan seluruh Jawa Timur hampir 25 persen,” pungkasnya.

Reporter : yti/fz
Design/Editor : Wijianto, SM

News Feed