oleh

Bisnis Tambang Mercuri Ilegal Digagalkan Tipidter Polda Jatim, 5 Tersangka Dibui

jurnalissiberindonesia.com, Surabaya – Penambangan ilegal dan perdagangan tanpa izin bahan baku Mercuri atau Airaksa yang di lakukan 5 orang komplotan pelaku berhasil digagalkan Subdit IV Tipidter, Ditreskrimsus Polda Jawa Timur.

Kasus pengungkapan tersebut kejadiannya, Sabtu (6/7), lalu melalui informasi Cyber Patrol mengetahui adanya praktik perdagangan bahan kemasan mercuri bermerk gold yang dipasarkan melalui media sosial (Medsos) dan secara proses sistemnya dengan Under Cover.

“Kita setelah mengetahui adanya kasus ini, selanjutnya dilakukan penyelidikan dengan cara proses transaksi kepada pelaku yang sebagai penjual bahan mercuri tersebut. Selanjutnya, setelah adanya kesepakatan untuk bertemu pelaku, lalu dilakukannya penjualan bahan mercuri yang bertempat letak lokasi berada Daerah Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur.

“Kita tangkap 1 tersangka berada di Sidoarjo dengan barang bukti sebanyak 200 Kg Mercuri yang jumlahnya pada kemasan tersebut 1 Kg. Bahkan, bahan itu masing-masing diantaranya adalah, Sianida, dan Biji Besi yang mana sebagai bahan campuran dari pembuatan,” ujar Dirreskrimsus, Kombes Pol Yusep Gunawan didampingi, Kasubdit IV Tipidter Polda Jatim, AKBP Rofik Ripto Himawan dan Satf Humas Polda Jatim, Kompol Sutrisno dalam keterangan Konferensi Pers, Selasa (13/8/2019).

Dia menjelaskan bahwa, setelah berhasil menangkap seorang tersangka, pihaknya mengembangkan terhadap pelaku lainn yang diduga merupakan sebagai produsen atau pengelola. Dan ternyata, salah satu dari tersangka sebagai pengelola tersebut berasal dari Sulawesi Tenggara (Sulteng) yang sudah bekerjasama dengan oknum masyarakat berada di Kabupaten Sidoarjo, hingga ketika dilakukan penindakan telah ditemukan bahan Mercuri yang sudah terkemas siap untuk dijual. Lalu, alat untuk pembuatan kemurnian bahan mercuri ini terbuat dengan bahan batu sinabar. “Kami setelah lakukan pemeriksaan bahwa, hasil batu sinabar didapat dari Daerah Provinsi Maluku, pada Pulau Buru,” terang Kombes Pol Akhmad Yusep Gunawanm

Setiap pembuatan, lanjutnya kapasitasnya 1 ton batu sinabar dengan dicampur Sianida dan Biji Besi, lalu telah dimurnikan pada alat tabung tersebut. Dengan kapasitas 1 ton ini, bisa terbagi mencapai 500 Kg. Masing-masing alat pertabungnya kapasitas ada kurang lebih 10 Kg, hingga hasil yang dikeluarkan sebanyak 5 Kg telah dikelola pelaku secara Home Industri. “Kita amankan totalnya barang bukti bahan baku sudah jadi Mercuri ada sebanyak 414 Kg,” ungkap Yusep.

Bahkan, Ia menyebut pada merk Gold merupakan resmi barang berasal dari Negara Jerman, dan sedangkan, di Indonesia melarang dengan peredaran atau memproduksi Mercuri. Yang artinya, di Indonesia tidak ada industri dari pada Mercuri, Namun apabila membutuhkan pada kesehatan atau penambangan maka, harus mengimport barang dari luar,” ulasnya.

Dia menyatakan, pada hasil pengembangan ini pihaknya melakukan penangkapan seorang pelaku yang mana pendistribusian di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng).

“Kita tangkap 2 (dua) tersangka diantaranya, dan menyita barang bukti yang berbentuk bahan Mercuri sudah jadi,” tutur Perwira Tiga Melati dipundaknya.

Dikatakannya, untuk pelaku dari pendistribusian tersebut sudah melakukan bisnis ilegalnya berjalan selama tahun 2006, silam. Hingga, kemasan bahan mercuri dijualnya per 1 Kg, seharga Rp 1,5 juta. “Ini menjadi perhatian dari pihak Pemerintah yang termasuk pada golongan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), dan apabila dibiarkan akan menimbulkan dampak merusak lingkungan,” tegas Yusep.

Dia menambahkan, perkara ini pihaknya akan jerat 5 (lima) orang tersangka masing-masing berinisial, AW (41), asal Kota Surabaya, AB (49), asal Waralohi, atau Provinsi Maluku, AH, alias AMH (35), asal Kabupaten Sidoarjo, AS (50), asal Hulu Sungai Selatan, Kabupaten Kalimantan Selatan, dan MR (35), asal Banjarmasin, dengan Undang-Undang Pertambangan yang ancaman hukuman 10 tahun penjara, dan Undang-Undang Perdagangan Tanpa Izin ancaman hukuman 6 tahun penjara. “Ini kami masih dalam proses pengembangan untuk membuka dari pada transaksi keuangan, dan kemana aliran dana tersebut keluar ke para konsumen pengguna, yang sehingga kita dapat menelusuri perkaranya lebih luas untuk tidak terjadi lagi dan upaya sudah kami lakukan koordinasi ke pihak Instansi terkait agar antisipasi masuk pada bahan baku batu sinabar ke wilayah Jawa Timur,” tukasnya.

Reporter: Haryati
Design/Editor: Wijianto, SM

News Feed