oleh

Mencapai 57 Persen, Virus HIV dan AIDS Paling Banyak Laki-Laki

jurnalissiberindonesia.com, Surabaya – Sebanyak estimasi ada 67.658 orang tersebar di Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Timur mengalami terjangkit virus Virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome). Itupun jumlah sangat bervariasi dan paling banyak mendominasi Kota Surabaya, hingga ke Daerah Jember, Situbondo, serta paling tinggi tersebut di Kabupaten Sidoarjo, Kota Malang, Tulungagung Lumajang dan Banyuwangi. Maka itu jumlah pasien dalam setahunnya ditemukan mengidap penyakit HIV yang sudah terobati, serta masih masa proses penyembuhan ada sebanyak 48.890 orang mengidap HIV.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Dr. dr. Kohar Hari Santoso, melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) (Dinkes) Provinsi Jawa Timur, dr. Setya Budiono, M.Kes., mengatakan bahwa pada tahun 2018, kemarin pihay menemukan sebanyak 8.930 orang mengidap HIV positif dan itu tiap tahunnya. Kemudian, di tahun 2017, lalu ditemukannya lagi angka sekitar 8.300 orang yang mengidap penyakit HIV,” terangnya, Kamis (1/8/19).

Setya Budiono menjelaskan bahwa kondisi AIDS dengan infeksi HIV itu secara berbeda karena, ada virus yang masuk pada ke dalam tubuh yang akhirnya mengakibatkan kondisi bisa sakit, namun dia kondisi tubuh masih sehat, yang artinya, tidak muncul pada penyakit tersebut dan bisa disebut dengan kondisi AIDS itu dari 8.930 orang yang ditemukan pada tahun 2018 kemarin, dan jumlahnya ada sekitar 1.221 yang sudah dalam kondisi AIDS,” jelasnya

Kemudian, lanjutnya kalau mengenai proporsi terjangkit virus HIV positif itu rata-rata dari laki-laki yang paling banyak mencapai angka 57 persen, dan dari perempuan cenderung dibandingkan lebih menurun mencapai angka 43 persen. Namun, kelompok usia produktif terbanyak antara 25 sampai 49 tahun. Serta, dalam penanganan yang terpenting turut prihatin pada kelompok usia anak bawah lima tahun (Balita) kurang dari 4 tahun sudah mengidap HIV positif ada sebanyak 214 anak balita. Hingga, usianya 5 sampai 14 tahun jumlah ada sebanyak 69 anak, dan usia 15 sampai 19 tahun ada sebanyak 156 anak remaja.

“Nah kalau anak kurang dari 4 tahun tertular HIV rata-rata dari faktor ibunya, tapi kalau umur 5 sampai 19 tahun tersebut tidak hanya bawaan dari faktor ibu, namun melainkan perilaku yang beresiko penularan,” ulasnya Setya Budiono kepada media ini.

Dia menuturkan kalau sisi kelompok beresiko proporsi positif adalah rata-rata pelanggan WTS (Wanita Tuna Susila). Kemudian, yang paling banyak berasal dari pria pekerja seks atau Waria. “Jadi, diantara mereka yang positif HIV misal ada 100 pelanggan pekerja seks begitu, maka dari 21 orang yang proporsinya positif mengidap HIV,” sebutnya

Dia menyampaikan penyakit yang muncul paling banyak pada penderita HIV, adalah Toxoplasma penyakit yang menyerang dari bakteri kuman parasit, lalu menyerang pada otak. Dengan itu, dampak dapat mengakibatkan meninggal dunia, yang kedua menyerang pada radang paru-paru. Bahkan, Setya mengaku di tahun 2018 kemarin Jawa Timur saat melakukan pemeriksaan ditemukan sebanyak 738 ibu hamil (Bumil) yang terjangkit virus HIV positif. “Jadi kalau kaitannya dengan anak sangat rentan sekali, hingga tidak berdaya kalau terkena virus HIV dan AIDS ini,” ungkapnya.

Dia mengatakan, perihal pada pencegahan HIV paling banyak di Jatim secara penularan melalui hubungan seksual, dan sistem ABCDE masing-masing adalah, A: Abstinence, atau jangan berhubungan seks sebelum menikah pasti tidak akan tertular HIV, B: Be faithful, atau kalau sudah menikah setia pada suami dan istri atau bisa juga disebut setia pada pasangannya, C: kalau pasangannya sudah punya resiko atau terkena HIV tertular gunakan lah alat kontrasepsi atau Condom, D: No Drugs, atau jangan gunakan obat-obatan terlarang sejenis narkoba, E: Edukasi,” terangnya.

Setya Budiono menyatakan bahwa, penularan pada ibu ke anak programnya yakni, PPIA Pencegahan Penularan Ibu dan Anak, caranya bagi Bumil di Jatim sebaiknya mengetahui status tentang HIV. “Jadi, mereka yang meminta periksa, bukan mereka yang disuruh untuk periksa, dengan tujuan untuk melindungi pada anak, karena kalau mereka diketahui mengidap HIV positif, maka akan mendapat obat antiretroviral (ARV) maka si anak dapat di cegah tertular,” imbuhnya.

Setya Budiono menambahkan bahwa penanganan HIV fase penyembuhan, adalah konsep sama dengan orang terkena darah tinggi, kontrol tekanan darah, tapi tetap meminum obat, kemudian seperti lainnya orang terkena kencing manis secara gula darah tetap terkontrol, tapi sama juga meminum obat.

“Nah untuk sama halnya dengan orang terkena HIV juga seperti itu kalau hasilnya positif secara rutin meminum obatnya, maka virus bisa di tekan sampai tidak terdeteksi dalam darah,” tukasnya. (yti/wj/fz)

News Feed