oleh

Gunakan Rotator dan Strobo, Sat PJR Polda Jatim Bakal Tindak Tegas Tilang

jurnalissiberindonesia.com, Surabaya – Pihak Kepolisian Lalu Lintas sebelumnya pada tahun 2017 silam telah memberlakukan agar pengendara roda empat (R4) baik pribadi ataupun lebih agar tidak menggunakan lampu rotator dan lampu strobo di Jalan Raya, bahkan apabila diketahui melanggar maka tak segan-segan akan diberikan sanksi tegas tilang.

Begitu juga pihak Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Sat PJR (Patroli Jalan Raya) Polda Jawa Timur kini kembali gencar berikan sanksi tindakan tegas tilang apabila petugas mengetahui pengendara pribadi R4 atau lebih yang melanggar menggunakan lampu rotator dan sirine, serta lampu strobo tersebut.

Selain itu, pihaknya juga menghimbau terhadap masyarakat dan pengguna kendaraan jalan agar tidak memasang pada mobil pribadi lampu rotator dan lampu strobo serta sirine saat berada di jalan raya atau di jalan tol. Bahkan, petugas Sat PJR Polda Jatim selalu menggelar operasi tersebut selama 24 jam hingga demikian dilakukan secara gabungan bersama Instansi jajaran Dinas Perhubungan (Dishub) untuk mengantisipasi bagi pengendara yang ketahuan melanggar menggunakan lampu rotator, lampu strobo maupun sirine.

“Pada aturannya di situ sudah jelas, dan alasan mereka pengendara yang melanggarnya sudah jelas, walaupun sering kali terjadi adanya pengelakkan dari para pelanggar-pelanggar ini.

Jadi intinya, mereka bukannya tidak tahu, dan bukannya tidak faham akan tetapi, lebih cenderung untuk mungkin ya, mereka ingin mencoba apakah petugas peduli atau tidak. Serta, yang pasti apabila ada pelanggaran seperti ini menggunakan lampu strobo dan lampu rotator yang warnanya apapun, tapi yang sudah kita lakukan penindakan tersebut lampu rotator yang berwarna biru, karena mereka berusaha untuk menyaru seperti penegak hukum, atau petugas, hingga seperti Polri atau TNI pada melakukan pengawalan itu kan menggunakan rotator biru tuh, nah mereka itu inginnya mendapatkan prioritas dan cenderung untuk menunjukkan bahwa mobil yang perlu di prioritaskan, maka perilaku-perilaku seperti inilah merupakan pelanggaran,” ujar Kasat PJR Polda Jawa Timur AKBP Bambang Sukmo Wibowo, S.I.K., S.H., M.Hum saat ditemui, Senin (15/7/2019).

Dia menuturkan pihaknya sudah melakukan penindakan walaupun kalau di ketahui dendanya pada Undang-Undang RI No. 22 Tahun 2009 tentang LLAJ (Lalu Lintas dan Angkutan Jalan) cukup tinggi. Kemungkinan, bagi yang biasa melanggar tersebut mungkin cukup rendah, tapi di situ ada ancaman hukuman penjara kurungan 1 bulan, kemudian dengan denda sebesar Rp. 250 ribu.

“Semoga atau harusnya kita berharapan menjadi efek jera, tetapi kenyataannya setiap kali ada penindakan, kemudian tidak lama lagi adanya pelanggaran yang sama, jadi efek jeranya belum terlihat di sini, akan tetapi ini tidak menjadikan anggota kami terus tak putus asa begitu ya, sudah di tindak berkali-kali kok masih tetap saja melanggar, maka kami tetap lakukan itu,” tegasnya.

Disampaikan AKBP Bambang, penindakan dan pelanggaran lalu lintas, khususnya untuk kendaraan mobil pribadi apapun yang menggunakan lampu rotator dan lampu strobo pihaknya tetap gencar terus menggelar operasi hingga sanksi akan ditindak tegas, serta kecuali selain kendaraan dinas yang telah di tentukan oleh undang-undang.

“Jadi, kendaraan ditentukan, yaitu hanya kendaraan Dinas Kepolisian pada saat bertugas maupun pengawalan dan kendaraan TNI yang dapat menggunakan lampu rotator maupun lampu strobo,” terangnya.

Selain itu, lulusan Akpol tahun 1999 juga menyampaikan mengenai plat nomor polisi (nopol) mobil yang berbentuk huruf pihaknya memberikan sanksi tindakan tegas berupa tilang, demikian pula sama pada plat nopol yang sudah di tentukan oleh undang-undang, adalah plat nopol yang di keluarkan pihak Samsat setempat dengan spesifikasi teknis (Spektek), Sedangkan di luar ketentuan tersebut di larang, hingga apalagi sekarang banyak lifestyle dari anak-anak muda terutama, angkanya pada tengah itu di ubah menjadi berbentuk huruf.

“Nah, ini menjadi suatu atensi kami karena, menghilangkan angka indentitas kendaraan tersebut yaitu, perilaku dari pengguna atau pengemudi jalan yang tidak bertanggung jawab, pastinya ada indikasi mereka akan melakukan penyamaran dalam tanda kutip supaya mungkin pada saat melanggar tidak terdeteksi oleh kamera cctv dan mereka bisa mengelak,” ungkap AKBP Bambang kepada jurnalissiberindonesia.com

Dikatakannya, mungkin juga kondisi lain dalam terlibat kecelakaan, mereka bisa menghilangkan indentitas pada kendaraan itu, hingga kondisi seperti inilah harus dilakukan dengan pencegahan yang tegas, serta dilakukan dengan penegakan hukum.

“Kami himbau bagi pengguna Jalan Raya dan Jalan Tol kecelakaan selalu di awali oleh pelanggaran, walaupun tidak semuanya pelanggaran menyebabkan kecelakaan secara langsung, tapi mari lah tertib berlalulintas, karena keselamatan dan keamanan merupakan tanggung jawab bersama,” tukasnya. (yti/wj)

News Feed