oleh

Lepasliarkan Satwa Komodo, Siapkan Kandang Habituasi dan Terpasang Cip

-Berita, Sosial-383 views

jurnalissiberindonesia.com, Sidoarjo – Pelepasliaran satwa jenis komodo atau bahasa latin (Varanus Komodoensis) oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (BBKSDAE) Jawa Timur dilaksanakan, Sabtu (13/7), dengan jumlah pemberangkatan sebanyak 6 (enam) ekor komodo yang merupakan hasil perdagangan illegal oleh para pelaku.

Dari 6 (enam) ekor komodo tersebut sampai, Jum’at (12/7), malam ini dalam keadaan sehat, dan akan di berangkatkan dari Bandara Juanda dengan tujuan ke Pulau Ontotole 17 Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Direktur Jendral (Dirjen) KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ir. Wiranto, M.Sc mengatakan pihaknya mengadakan pelepasanliaran 6 (enam) ekor hewan satwa dilindungi komodo relokasinya tersebut juga didampingi petugas dari Polisi Kehutanan (Polhut) BBKSDAE Jatim dan Personil dari Komodo Survival Progam (KSP). “Pencegahan perdagangan illegal satwa liar merupakan suatu komitmen kita bersama dalam rangka menjaga kelestarian pada populasinya,” ujarnya saat diwawancarai oleh awak media, Jum’at (12/7) sekitar pukul 20.14 WIB, malam.

Wiranto menjelaskan komitmen kita dalam rangka pencegahan perdagangan illegal satwa liar dapat terbukti saling berkerja sama dengan pihak Kepolisian yang telah mengungkap sindikat perdagangan illegal satwa liar jenis komodo. “Kami apresiasi dan penghargaan kepada semua unsur pihak atas keberhasilan menggagalkan sindikat perdagangan illegal tersebut yang berada di Wilayah Jawa Timur, hingga dari 6 (enam) ekor komodo yang masih keadaan sehat selama berada di kandang transit Balai Besar KSDAE Jawa Timur, sedangkan perkembangan proses secara hukum pidana telah diterapkan pada undang-undang No.5 tahun 1990 tentang KSDAE, yang ancaman hukumannya 10 tahun penjara, dengan denda Rp 100 juta dan saat ini sudah memasuki tahapan persidangan di Pengadilan Negeri Surabaya,” tuturnya.

Kemudian, Kepala Balai Besar KSDAE Dr. Nandang Prihadi, S.Hut., M.Sc., menambahkan upaya penanganan satwa komodo yang diperdagangkan secara illegal di kembalikan ke habitat asal menjadi prioritas utama, dari langkah awal yang akan dilakukan yaitu, uji Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) dengan tujuan agar mengetahui asal usul satwa komodo tersebut . “Iya kita lakukan uji DNA terlebih dahulu dengan secara hasil laboratorium genetika bidang zoologi, pusat penelitian biologi – LIPI,” urai Nandang Prihadi.

Hasil uji DNA, sambungnya menunjukkan bahwa ke 6 (enam) ekor komodo tersebut semuanya berjenis kelamin betina dan dapat disimpulkan bahwa hewan satwa dilindungi komodo yang diperdagangkan secara illegal merupakan jenis yang berasal dari Flores Utara dan bukan dari Taman Satwa Nasional Komodo,” sebut Nandang kepada media ini.

Nandang menuturkan pelepasliaran ke habitat pihaknya juga menyiapkan kandang habituasi yang mana terpasang alat deteksi yakni, cip. “Jadi, cip tersebut terpasang pada bawah kulit hewan satwa komodo, dengan tujuan untuk mengetahui gerak dan juga perkembangannya sedangkan, sisi medisnya pemasangan mikro cip tidak menggangu kesehatan pada hewan komodo,” imbuhnya. (yti/wj)

News Feed