oleh

Guru SMA Negeri 3 Mojokerto Dilaporkan Ke Polda Jatim, Ada Apa?

Surabaya -jurnalissiberindonesia.com
Korban Widiono (56) warga Winongan, Kabupaten Pasuran mendatangi Mapolda Jawa Timur guna melaporkan Drs. Zakaria (50) warga Gedeg, Kabupaten Mojokerto atas kasus tindak pidana penipuan dan penggelapan.

Diketahui Drs Zakaria yang profesinya sebagai guru bahasa Inggris di SMAN 3 di Daerah Mojokerto sebagai calon besan dari Widiono, dengan meminjam uang sebesar Rp.910.700.000,- atau kurang lebih sekitar 1 miliar, pada tanggal 7 Agustus 2017, tanpa adanya itikad baik yang sampai saat ini zakaria masih belum mengembalikan pinjaman tersebut, sehingga dilaporkan atas kasus tindak pidana penipuan dan penggelapan dengan nomor LPB/142/II/2019/UM/Jatim pada hari Kamis (14/2/2019).

Selaku pendamping pelapor Widiono, Bayu Indarto menyampaikan, kami memutuskan membawa perkara yang dihadapi Widiono lantaran Zakaria hingga saat ini tidak ada itikad baik melunasi hutang yang menjadi tanggung jawabnya.

“Kita laporkan supaya dari Zakaria segera melunasinya hutang yang menjadi tanggungannya,” tuturnya saat dijumpai di Mapolda Jatim, Senin (4/3), sore.

Dijelaskan, kejadian awal mulanya pada bulan Agustus 2017 lalu. Pada saat itu, Zakaria mengeluh kepada Widiono soal rumah yang ditempatinya hendak disita bank. Zakaria lalu minta bantuan kepada Widiono dengan meminjam uang sebesar Rp.910.700 juta sebagai jaminan, Zakaria menyerahkan 5 buah sertifikat tanah miliknya kepada Widiono.

“Ya namanya calon besan, dari korban tidak merasa mempunyai pikiran yang aneh-aneh dan diserahkannya uang tersebut kepada Zakaria,” ujar Bayu Indarto kepada jurnalissiberindonesia.com

Seiring berjalannya waktu lanjutnya, Zakaria kembali bertandang ke rumah Widiono yang terletak di Desa Lebak RT 01 RW 06 Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan. Bukannya ingin melunasi hutang, kedatangannya justru meminta kembali 3 sertifikat yang sempat diberikan kepada Widiono.

Widiono beralasan kata Bayu, sertifikat tanah diatasnya sudah berdiri bangunan gudang tersebut hendak di agunkan ke bank. Uang tersebut akan dipakainya untuk membayar hutang kepada orang lain.

“Sertifikat yang diminta itu nominalnya jauh lebih besar dibandingkan 2 sertifikat yang lainnya. Karena merasa sebagai calon besan, Zakaria memberikannya tanpa curiga,” imbuhnya.

Sementara, Bayu menjelaskan, 2 sertifikat Zakaria yang masih berada di tangan Widiono nominalnya tak sebanding dengan jumlah hutangnya.

Persoalan kemudian, terjadi diantara kedua belah pihak keluarga calon besan anak mereka telah batal menikah.

“Widiono menagih hutangnya, akan tetapi dari pihak yang bersangkutan hingga sampai sekarang tidak ada untuk upaya pelunasan,” tukasnya. (yti/fz)

News Feed