oleh

Pertamina EP Anggarkan Belanja Modal 2019 Sebesar US$550 Juta

-HEADLINE, Migas-240 views

JAKARTA – PT Pertamina EP, anak usaha PT Pertamina (Persero) di sektor hulu migas menganggarkan belanja modal sekitar US$550 juta untuk investasi pada 2019.

Fadjar Harianto Widodo, Direktur Keuangan Pertamina EP, mengatakan Pertamina EP menyiapkan investasi sedikitnya US$550 juta, sebagian besar digunakan untuk pengeboran sumur pengembangan dan perbaikan fasilitas produksi.

“Tahun depan alokasi sekitar US$550 juta, dominan untuk pengeboran dalam rangka menjaga tidak ada decline produksi dan perbaikan fasilitas produksi,” kata Fadjar saat berbincang dengan Dunia Energi, belum lama ini.

Fadjar mengatakan, pada 2019 ada sekitar 90 sumur yang di bor, dari Rantau hingga Papua yang menjadi area operasi Pertamina EP. Dari jumlah tersebut sedikitnya ada lima sumur eksplorasi. Manajemen berkomitmen untuk tetap melakukan pengeboran eksplorasi karena penting untuk tetap menjaga kelangsungan produksi.

Jumlah investasi 2019 turun dibanding alokasi 2018 yang dipatok US$600 juta. Realisasi hingga akhir 2018 sudah hampir 100%.

Target Produksi

Pertamina EP menargetkan produksi minyak pada 2019 sebesar 82,5 ribu barel per hari (bph), turun dibanding target tahun ini 83 ribu bph.

“Target produksi yang disepakati dengam SKK Migas sekitar 82,5 ribu bph. Kami harapkan bisa tercapai sesuai harapan pemerintah karena kondisi sekarang sudah mulai membaik,” kata Fadjar.

Fadjar mengatakan, penurunan target produksi bertujuan untuk menjaga umur sumur produksi. Pada tahun ini, realisasi produksi diestimasi sekitar 79 ribu bph – 80 ribu bph.

Untuk target produksi gas ditetapkan 900 juta kaki kubik per hari (MMSCFD), tidak banyak berubah dibandingkan dengan tahun ini. Justru realisasi pada tahun ini melebihi target karena rata-rata produksi sudah mencapai 1.000 MMSCFD.

“Kami turunkan target untuk menjaga reservoir, biar tidak hilang dalam beberapa tahun. Jadi bukan masalah cepat habis, karena kalau tekanan reservoir turun kandungan yang dibawah malah lari kemana-mana jadi decline rate lebih cepat,” tandas Fadjar. (Red). Sumber : dunia-energi.com

News Feed