oleh

Kondisi Bojonegoro Selama Tahun 2018

Bojonegoro – Akhir tahun kondisi Bojonegoro menurut kaca mata hasil diskusi yang dilakukan Bojonegoro Institute (BI) bersama dengan sejumlah perwakilan kelompok masyarakat, kondisi kemiskinan terbesar faktor ketimpangan.

Direktur Bojonegoro Institute (BI) AW Syaiful Huda mengatakan kantong kemiskinan di Bojonegoro sebagian besar terjadi di sekitar hutan. Namun demikian, di sekitar daerah ekstraktif juga belum bisa menjadi tolakukur kemiskinan bisa terangkat.

“Banyak faktor, selain karena kesenjangan program intervensi pemerintah, juga faktor kepala rumah tangga perempuan, artinya kita harus mendorong keterlibatan banyak pihak untuk mengatasi kemiskinan tersebut,” ujarnya, Kamis (20/12/2018).

Salah satu bentuk ketimpangan dari sektor pembangunan, yakni pembangunan yang dilakukan banyak terfokus daerah utara atau wilayah kota. Sehingga, bagi masyarakat yang berada di selatan Bojonegoro akan lebih sulit dalam mengakses perkembangan pembangunan.

“Pembangunan di faktor pendidikan dan kesehatan ini harus lebih difokuskan kepada kantong-kantong kemiskinan,” ujar Direktur NGO lokal Bojonegoro itu.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bojonegoro, I Nyoman Sudana mengatakan, percepatan penurunan kemiskinan di Bojonegoro pada tahun 2018 sudah mengalami penurunan sekitar 1,18 persen. Dan menempati angka 11 se Jawa Timur.

“Intervensi pembangunan yang dilakukan Pemkab sekarang dilakukan by name by adress. Agar bantuan yang diberikan bisa tepat sasaran,” terangnya.

Sementara itu, Dosen Fisip Unigoro, Miftahul Huda mengatakan sejauh ini pendapatan asli daerah (PAD) yang diperoleh dari kerja pemerintahan yakni di sektor pendapatan bidang pelayanan kesehatan. Sedangkan bidang pendapatan dari migas sendiri diperoleh Pemkab Bojonegoro sebagai anugerah alam.

“Sektor Pendapatan terbesar 65 persen dari pendapatan orang sakit. Pendapatan ini harusnya tidak memberatkan orang miskin. Dan sektor belanja, harus on the trek sesuai dengan arah untuk mengentaskan kemiskinan,” terang Miftah yang lembaga riset Fitra Jatim. (Red).Sumber:
beritajatim.com

News Feed